Kabawetan Tea Plantation, Tetap Lestari Melintasi 3 Zaman

22

HARIAN KORAN BENGKULU.CO,- Kabut pagi kian tebal mengungkung Kabupaten Kepahiang. Perkebunan teh seluas 1.911,7 hektar terhampar di dataran tinggi Bengkulu ini. Perkebunan yang tetap subur sejak masa kolonial.

Dataran tinggi Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, diselimuti kabut pagi. Para pemetik teh yang rata-rata dilakoni perempuan, tampak hilir-mudik, mengangkut bungkusan berisi daun teh.

“Teh dengan kualitas terbaik untuk dikirim ke luar negeri itu, mesti dipetik pagi hari. Sebelum matahari muncul,” kata Katmi, seorang pemetik teh. Perempuan berusia 40 tahun itu kemudian berlalu bersama Rakiah, Samini, dan banyak pekerja perempuan lainnya.

Silih berganti, hasil petikan mereka ditumpuk di pinggir jalan. Setelah ditimbang, Katmi dan pekerja lainnya mengantongi Rp.700,-per kilogram sebagai upah memetik. Hari ini, Katmi memperoleh 45 kilogram hasil hasil petikan, dan truk datang mengangkut hasil. Hasil petikan ribuan pekerja ini akan tiba di Pabrik Teh Kabawetan PT Sarana Mandiri Mukti.

Belanda – Jepang – Indonesia
Sejak berdirinya wilayah perkebunan di tahun 1925 oleh pemerintah kolonial Belanda, pada tahun 1933 dataran tinggi Kepahiang ditanami teh. Pada tahun 1942 -1945 Jepang mengambil alih, dan. tahun 1945 menjadi milik Indonesia. Kini kawasan berudara sejuk ini menjadi salah satu alternatif wisata alam dan budaya di Bengkulu.

Pabrik pengolahan teh PT Sarana Mandiri Mukti ini masih terus beroperasi di dalam bangunan tua luas yang dilabeli sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah.

“Ini desa kelahiran saya. Kakek saya, bapak saya, hingga saya sendiri bekerja di perkebunan teh ini. Ini teh enak yang telah patah tumbuh, tengelam dan bangkit lagi sejak zaman Belanda. Dari kecil saya di sini, dan saya tidak pernah beranjak dari Kepahiang ini,” kata Sukardi. Pabrik ini awalnya hanya menghasilkan teh hitam dan sekarang berganti meproduksi teh hijau, karena teh hitam tidak pamornya menurun di luar negeri.

Kepahiang, dataran tinggi Bengkulu. Setelah Inggris dan EIC kehilangan kekuatan di Bengkulu, kolonial Belanda menggantikan. Kepahiang, daerah yang sebelumnya termasuk dalam Sumatra Westkust oleh pemerintah kolonial Belanda ini menampung beribu-ribu kuli di masa lalu. Perkebunan teh sebagai komoditi urama yang membuat ia mencuat sebagai penghasil teh terkenal.

Di Kepahiang, pagi dimulai dengan warna hijau pucuk-pucuk teh, kabut yang tiap sebentar turun, juga senyum perempuan-perempuan yang memetik teh. CC

Loading...