Connect with us

Hukum

Manuver ‘Orang-Orang’ Riduan Mukti, Usik Luka Hati Rakyat Bengkulu

Published

on

Riduan Mukti berjalan menuju mobil tahanan seusai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Rabu (16/8/2017). Pemeriksaan lanjutan Ridwan Mukti tersebut terkait kasus suap terkait proyek-proyek di lingkungan Pemprov Bengkulu Tahun Anggaran 2017(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Catatan Tercecer Chairuddin MDK

Manuver terbuka ‘Orag-Orang’ Riduan Mukti, mantan Gubernur Bengkulu yang kini ‘Mendekam’ dibalik Jeruji Besi Penjara bersama ‘Sang’ istri, Lily Martiani Maddari, terindikasi ‘Mengusik’ kembali luka lama Hati rakyat Bangkulu.

Adalah orang bernama Apriansyah alias Rian, yang menyatakan diri sebagai Pemimpin Redaksi Media Berita Rafflesia dan Ketua LSM Pijar, yang terindikasi memulai gerakan ‘Membela’ Riduan Mukti yang saat ‘Akan’ dan ‘Setelah’ menjadi Gubernur dinilai ‘Menyakiti’ hati rakyat Bengkulu dengan ‘Memasung’ hak-hak Demokrasi di Pilkada, serta ‘Mengobok-Obok’  tetanan Pemerintahan.

Diawali dengan pernyataan ‘Arogan’ yang ‘Dipublikasikan’ di group WA (WhatsApp) Humas Pemprov (Bengkulu), Rian mengajak orang lain yang tentu saja diduga adalah Kelompoknya untuk mendesak Polda mengusut kasus  black campaign. “ Ayo Siapa yang Ingin Ikut Saya ke Polda, mendesak Polda Bengkulu Usut Ulang Kasus black campaign Koran Bengkulu yang dikenal tidak mendidik,” kata Rian.

Pesan lain Rian yang juga dipublikasikan di group WA Humas Pemprov, menyebutkan, Ketua LSM Pijar Hari ini Datangi Polda Bengkulu, Mendesak agar Polda Bengkulu Mengusut Ulang Media yang terlibat Kasus black campaign.

Manuver Rian membela Riduan Mukti berikutnya, yang suka atau tidak suka berpotensi menyakiti hati rakyat Bengkulu karena di acara salah satu Parpol mantan Gubernur Musi rawas itu secara terbuka pernah menyebut orang Bengkulu ‘Buayo Galo’, adalah  dengan menayangkan bertita di bawah Judul Ormas Pijar Desak Polda Usut Kembali Kasus Koran  ‘Black Campaign’, di media online miliknya Beritarafflesia.com.

Menurut seorang pemilik media online lain, penulis berita tersebut adalah Arie Fribadi, warga Lubuk Linggau yang ketika pertama datang ke Bengkulu menjadi ‘Anak’ buah Alfatomi Jaelani di Metro Bengkulu. Konyolnya, saat berkunjung ke redaksi Koran Bengkulu, secara sembunyi-sembunyi Arie mengabadikan poto dua unsur Pimpinan Koran Bengkulu dengan menggunakan telepon selularnya. “ Poto bapak berduo dikirim ke Rian,” tutur si pemilik media.

Seperti diketahui, terkait tudingan Koran Bengkulu melakukan ‘Black Campaign’ yang oleh Rian dijadikan ‘Pintu’ masuk untuk ‘Mengusik’ Kekecewaan rakyat Bengkulu terhadap Riduan Mukti, adalah merupakan Peristiwa empat tahun lalu yang sama sekali tidak masuk Akal Sehat untuk diutik-utik, apalagi untuk jadikan ‘Alat’ kepentingan yang tidak ada Korelasinya.

Lagi pula, tudingan ‘Black Campaign’ terhadap Koran Bengkulu termasuk SKM Suara Hukum sudah diproses oleh Dewan Pers, atas dasar laporan tim Kuasa Hukum Riduan Mukti sebagai ‘Orang’ yang ketika itu mengaku dirugikan.

Setelah tiga kali persidangan, sesuai dengan amanat Pasal 15 Ayat (2) hurup d Undang-Undang 40 tahun 1999 tentang Pers, melalui rekomendasinya Dewan Pers yang juga dibentuk berdasarkan  BAB V Pasal yang sama dan di Undang-Undang yang sama menyimpulkan, tidak ada Berita, Tulisan, Poto dan Karya Junalis lainnya di Koran Bengkulu dan Suara Hukum yang memenuhi unsur ‘Black Campaign’.

Oleh Dewan Pers, baik Koran Bengkulu maupun Suara Hukum hanya dipersalahkan melanggar Undang-Undang 40 tahun 1999 tentang Pers karena tidak memberikan kesempatan kepada Riduan Mukti untuk menggunakan Hak Jawab, atau menurut istilah Dewan Pers ‘Tidak Memberikan Panggung’. Pada bagian akhir rekomendasi Dewan Pers disebutkan; oleh karenanya diserahkan kepada Pihak yang merasa Dirugikan apakah akan menempuh upaya hukum lain atau tidak.

Jika kita ‘Memutar’ waktu kembali ke tahun 2015, tanpa berniat menyudutkan satu Pihak, Orang atau Siapapun, sebagaimana diberitakan Koran Bengkulu dan Suara Hukum tidak sedikit fakta yang terungkap ke permukaan. Sejak maju sebagai Calon Gubernur di Pilkada berpasangan dengan Rohidin Mersyah sebagai Calon Wakil Gubernur, tidak sedikit juga maneuver Roiduan Mukti, mantan Bupati Kabupaten tertinggal dua periode, Musi Rawas, Sumatera Selatan, yang mengecewakan masyarakat Bengkulu.

Terlepas dari berbagai kegagalan saat dia menjadi ‘Orang’ nomor Satu di Kabupaten Musi Rawas selama Sepuluh tahun, yang fataknya sempat dibeberkan oleh Koran Bengkulu dan Suara Hukum yang kemudian dituding melakukan black campaign, dengan menggunakan Power dan Pinansial termasuk timnya Riduan Mukti berhasil ‘Memasung’ hak-hak Demokrasi putra-putra terbaik Provinsi Bengkulu untuk tidak bisa masuk ke ‘Gelanggang’ Pilkada, dengan cara ‘Memborong’ habis Partai Politik (Parpol) pengusung.

Selain itu, belum genap enam bulan sejak dilantik menjadi Gubernur Bengkulu pada 12 Februari 2016, Riduan Mukti dengan berani sudah melanggar Undang-Undang 8 tahun 2015 tentang penetapan Perppu nomor 1 tahun 2014, dengan mencopot Andy Rosliansyah dari jabatannya sebagai Kadis PUPR Provinsi Bengkulu. Menurut Pasal 162 Ayat (3) Undang-Undang tersebut,  Gubernur, Bupati atau Walikota dilarang melakukan penggantian pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota, dalam jangka waktu enam bulan terhitung sejak tanggal Pelantikan.

Arogannya lagi, pasca ‘Mencopot’ Kadis PUPR, Andy Rosliansyah, selain membatalkan Pemenang lelang seluruh proyek, Riduan Mukti menerapkan kebijakan yang terkesan ‘Abal’Abal, dengan melakukan Rasionalisasi Anggaran di APBD hingga sebesar 30 persen yang disahkan dengan Perda (Peraturan Daerah).

Terkait rasionalisasi anggaran sebesar 30 persen, kebijakan Riduan Mukti, ketika itu, dapat dikatagorikan sebagai ‘Pelecehan’ terhadap Perda APBD yang dibuat oleh DPRD Provinsi Bengkulu sebagai lembaga ‘legislasi’  

Manuver ‘Mbalelo’ Riduan Mukti berikutnya, adalah ‘Mencopot’ Jabatan puluhan Pejabat yang banyak diantara sudah lama mengabdi di lingkungan Pemprov Bengkulu, kemudian diganti oleh para pejabat ‘Bedol’ ASN yang dia ‘Boyong’ dari Kabupaten tertinggal, Musi Rawas. Kebijakan lain Riduan Mukti yang terkesan menjadi ‘Sabda’ raja, dia melarang seluruh eselon 2 menhadap  jika tak dipanggil.

Namun seperti kata pepatah, ‘Sepandai Pandai Tupai Melompat’ akhirnya jatuh jua ke tanah, pada Sabtu 20 Juni 2017, Riduan Mukti terseret pusaran kasus istrinya, Lily Martiani Madari, yang terjaring OTT Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Jejak Rekan Riduan Mukti yang sempat Meyakitkan hati rakyat Bengkulu itulah, yang entah untuk kepentingan ‘Apa’ dan ‘Siapa’, yang oleh Apriansyah alias Rian diangkat ke permukaan dengan cara akan mendesak Polda mengusut ulang kasus Black Campaign Koran Bengkulu.

Kita tidak tahu persis ada motif terselubung apa dibalik gerakan menuver Apriansyah. Apakah dengan mengutak-atik tudingan Black Camping Koran Bengkulu Apriansyah berharap bisa ‘Membalikkan’ fakta sehingga bisa memposisikan Riduan Mukti adalah Pahlawann,  karena menurut dia Kasus black campaign Koran Bengkulu tentang Riduan Mukti dikenal tidak mendidik ‘wallahu a’lam bis-shawab’(*****).

Penulis adalah Pemimpin Umum/Penanggungjawab HarianKoranBengkulu.co

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *